DPP Pengajian Al-Hidayah Perkuat Keluarga dan Persatuan Lewat Keteladanan Rasulullah

4 menit membaca View : 25
MSA
Nasional - 09 Sep 2026

JAKARTA, WAKILRAKYAT.CO.ID – DPP Pengajian Al-Hidayah menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum memperkuat keluarga, pemberdayaan perempuan, kepedulian sosial, dan persatuan bangsa.

Peringatan tersebut digelar di Ballroom Lantai II Grha DPP Partai Golkar, Jakarta, Selasa (8/9/2026), dengan mengusung tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW untuk Menguatkan Keluarga, Umat, dan Persatuan Bangsa.”

Sekitar 250 peserta menghadiri kegiatan secara langsung. Sementara pengurus DPD Pengajian Al-Hidayah tingkat provinsi, kabupaten/kota, serta masyarakat umum mengikuti kegiatan melalui Zoom dan YouTube.

Keteladanan Rasulullah Jadi Fondasi

Ketua Panitia Peringatan Maulid Nabi DPP Pengajian Al-Hidayah, Napsiyah Arifuzzaman, mengatakan Maulid Nabi harus menjadi momentum untuk menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan nyata.

Menurutnya, keteladanan tersebut perlu diterapkan tidak hanya dalam kehidupan pribadi, tetapi juga di lingkungan keluarga, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Melalui peringatan Maulid Nabi ini, kita ingin membawa akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga, masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Napsiyah.

Ia berharap momentum Maulid Nabi mendorong umat memperbanyak shalawat dan amal kebaikan sehingga keluarga, umat, dan bangsa semakin kuat.

Hetifah Soroti Peran Perempuan

Ketua Umum DPP Pengajian Al-Hidayah, Hetifah Sjaifudian, mengatakan keteladanan Rasulullah SAW memiliki relevansi kuat dengan upaya membangun keluarga dan masyarakat yang berkarakter.

Ia mengingatkan pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 yang menempatkan Rasulullah sebagai uswatun hasanah.

Menurut Hetifah, pembangunan peradaban harus dimulai dari manusia yang memiliki karakter, kemudian diteruskan melalui keluarga yang kuat dan masyarakat yang saling menghormati.

“Peradaban dimulai dari manusia yang berkarakter, keluarga yang kuat, masyarakat yang saling menghormati, dan persaudaraan yang kokoh,” kata Hetifah.

Ia juga menilai perempuan dan ibu memiliki posisi strategis dalam memperkuat ketahanan keluarga.

Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi, perempuan perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi secara positif sekaligus tetap berpegang pada nilai moral dan keagamaan.

Karena itu, DPP Pengajian Al-Hidayah terus didorong untuk meningkatkan kapasitas perempuan serta memberikan kontribusi nyata melalui berbagai kegiatan sosial.

Program tersebut antara lain kepedulian terhadap kaum dhuafa, perlindungan keluarga dan anak, pemberdayaan perempuan, serta penguatan ekonomi keluarga.

Al-Hidayah Didorong Jadi Jembatan Persatuan

Hetifah juga menekankan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah perbedaan latar belakang, organisasi, pilihan maupun pandangan.

Menurutnya, perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk memutus persaudaraan dan mengganggu persatuan.

“Al-Hidayah harus menjadi jembatan persaudaraan dan persatuan,” tegas Hetifah.

Ia berharap kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat berjalan seiring dengan kecintaan kepada bangsa dan negara melalui kontribusi sosial yang nyata.

Hasani: Akhlak Dimulai dari Keluarga

Penceramah sekaligus Guru Besar UIN Jakarta, Hasani Ahmad Said, menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan uswatun hasanah yang patut diteladani umat Islam.

Menurutnya, keteladanan Rasulullah tidak hanya tercermin dalam ucapan, tetapi juga perbuatan, sifat, dan ketetapan beliau.

Hasani mengingatkan pentingnya mengendalikan amarah sebagai salah satu bentuk akhlak yang diajarkan Rasulullah.

“Jangan engkau jadi orang pemarah. Karena di balik itu, kalau kita bisa menahan amarah, di situ ada surga,” tuturnya.

Selain hubungan sosial, Hasani menekankan pentingnya menerapkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan keluarga.

Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menekankan pentingnya memberikan perlakuan terbaik kepada keluarga.

“Sebaik-baik kalian adalah ketika berbuat yang terbaik kepada keluargamu,” kata Hasani mengutip sabda Rasulullah SAW.

Menurutnya, seorang suami memiliki tanggung jawab besar dalam membangun kehidupan rumah tangga, termasuk membantu pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak.

Sarmuji: Teladani Rasulullah dari Hal Sederhana

Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, M. Sarmuji, turut mengajak anggota Pengajian Al-Hidayah menjadikan kehidupan Rasulullah sebagai contoh dalam menjalankan peran masing-masing.

Menurut Sarmuji, sisi kemanusiaan Rasulullah justru menjadi bagian yang dekat dan dapat ditiru umat.

“Rasulullah itu dari jenis kita sendiri. Jadi sisi kemanusiaannya itu yang justru bisa kita contoh,” ujar Sarmuji.

Ia menjelaskan, seorang suami dapat belajar dari Rasulullah dalam membangun keluarga. Seorang pemimpin dapat meneladani kepemimpinan Rasulullah, sementara ulama dapat belajar dari peran Rasulullah dalam kehidupan keagamaan.

Sarmuji juga mengingatkan bahwa meneladani Rasulullah tidak selalu harus melalui tindakan besar.

Kebiasaan sederhana seperti masuk rumah dengan kaki kanan, makan menggunakan tangan kanan, serta masuk kamar mandi dengan kaki kiri merupakan contoh adab yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, peringatan Maulid Nabi DPP Pengajian Al-Hidayah diharapkan tidak berhenti pada seremoni.

Momentum tersebut diharapkan mampu melahirkan perubahan perilaku, memperkuat keluarga, memberdayakan perempuan, meningkatkan kepedulian sosial, serta memperkokoh persatuan umat dan bangsa (red)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *