MN FORHATIJAKARTA, WAKILRAKYAT.CO.ID – Forum HMI-Wati (FORHATI) Nasional memperkuat jejaring aksi lingkungan lintas daerah melalui Training of Trainers (TOT) Pengelolaan Sampah yang melibatkan peserta dari berbagai wilayah Indonesia.
Kegiatan yang digelar secara hybrid pada Kamis (24/9/2026) tersebut menjadi bagian dari Gerakan Hijau FORHATI dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 2026. Gerakan tersebut mengusung tema “Perempuan Bergerak, Aksi Nyata untuk Iklim Indonesia.”
Koordinator Presidium FORHATI Nasional, Dra. Anita Ariyani, mengatakan peserta TOT diharapkan tidak berhenti pada penerimaan materi, tetapi mampu meneruskan pengetahuan dan membangun aksi lingkungan di wilayah masing-masing.
“Gerakan Hijau FORHATI kami dorong sebagai gerakan yang tidak berhenti pada kampanye, tetapi dilanjutkan dengan pengetahuan dan aksi nyata. Melalui TOT ini, kami berharap peserta dapat menjadi penggerak di wilayah dan daerah masing-masing serta meneruskan edukasi pengelolaan sampah kepada keluarga, komunitas, dan masyarakat,” ujar Anita di Jakarta, Jum’at (25/09).
TOT Pengelolaan Sampah melibatkan FORHATI Nasional, FORHATI Wilayah, dan FORHATI Daerah dari berbagai wilayah Indonesia.
Organisasi perempuan dan masyarakat umum juga mengikuti kegiatan tersebut, baik secara langsung maupun melalui platform daring.
Komposisi peserta yang berasal dari berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pertukaran pengetahuan mengenai pengelolaan lingkungan.
Dengan model tersebut, pengetahuan yang diberikan dalam pelatihan diharapkan dapat dibawa kembali oleh peserta ke daerah masing-masing.
Konsep Training of Trainers memungkinkan peserta yang mengikuti pembekalan untuk meneruskan materi kepada kelompok lain.
Dalam konteks Gerakan Hijau FORHATI, peserta diharapkan dapat menyebarluaskan pengetahuan mengenai pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan sampah kepada keluarga, komunitas, serta masyarakat.
Pola ini memungkinkan kegiatan yang berlangsung dalam satu forum dapat diteruskan melalui berbagai kegiatan edukasi di daerah.
Dengan demikian, pelatihan tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga menjadi titik awal bagi terbentuknya jejaring edukasi lingkungan.
Untuk memperkuat kapasitas peserta, FORHATI menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang akademik dan praktis.
Dosen IPB Dr. Meti Ekayani, S.Hut., M.Sc., IPM., menyampaikan materi “Pilah-Pilih Sampah: Langkah Awal Menuju Daur Ulang dan Ekonomi Sirkular.”
Praktisi lingkungan Oki Pulungan memberikan materi “Pilah, Olah, Manfaatkan: Aksi Nyata Mengelola Limbah Rumah Tangga.”
Sementara TA Utama BRIN Andi Irman, M.M., membawakan materi “Dari Plastik Bekas Menjadi Bernilai: Membangun Rantai Daur Ulang Plastik.”
Materi dari ketiga narasumber tersebut mencakup pemilahan sampah, pengelolaan limbah rumah tangga, ekonomi sirkular, hingga rantai daur ulang plastik.
Keterlibatan FORHATI dari tingkat nasional, wilayah, dan daerah memberikan ruang untuk membangun hubungan antaranggota yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan.
Pengetahuan yang diperoleh masing-masing peserta dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan di daerahnya.
Dengan karakteristik persoalan sampah yang dapat berbeda antarwilayah, pendekatan berbasis komunitas memungkinkan peserta mengembangkan kegiatan sesuai dengan kondisi setempat.
Jejaring tersebut juga dapat menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai praktik pengelolaan sampah yang telah dilakukan di masing-masing daerah.
TOT Pengelolaan Sampah merupakan salah satu kegiatan dalam rangkaian Gerakan Hijau FORHATI yang berlangsung hingga Oktober 2026.
Sejumlah kegiatan lain juga telah disiapkan, termasuk podcast dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda.
FORHATI juga menggelar Business Plan Competition “Inovasi Pengolahan Sampah Rumah Tangga” serta menyiapkan aksi penanaman mangrove.
Rangkaian kegiatan tersebut dirancang dengan pendekatan edukasi, inovasi, dan aksi langsung di lapangan.
Gerakan Hijau FORHATI juga membuka ruang keterlibatan bagi perempuan, generasi muda, organisasi masyarakat, komunitas, dan masyarakat umum.
Keterlibatan berbagai kelompok tersebut diharapkan memperluas basis partisipasi masyarakat dalam isu lingkungan.
Melalui jejaring yang terbentuk, FORHATI mendorong agar kepedulian terhadap perubahan iklim dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang dilakukan secara nyata di tingkat lokal.
Bagi FORHATI, peningkatan kapasitas merupakan salah satu tahap untuk membangun gerakan lingkungan yang berkelanjutan.
TOT memberikan pengetahuan kepada peserta, sementara jejaring organisasi menjadi jalur untuk meneruskan pengetahuan tersebut kepada masyarakat.
Dengan rangkaian kegiatan hingga Oktober 2026, Gerakan Hijau FORHATI diarahkan untuk mempertemukan berbagai kelompok dalam aksi menjaga lingkungan.
Pengetahuan mengenai pengelolaan sampah diharapkan dapat terus berkembang menjadi edukasi dan kegiatan nyata di berbagai daerah Indonesia (red)

Tidak ada komentar