Adela Kanasya Soroti Kesenjangan Literasi, Sekolah Terpencil Butuh Bacaan Berkualitas

4 menit membaca View : 12
MSA
Nasional - 08 Sep 2026

JAKARTA, WAKILRAKYAT.CO.ID – Persetujuan pagu anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Tahun Anggaran 2027 menjadi momentum untuk memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan berkualitas. Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, Adela Kanasya Adies, menilai pemerataan literasi harus menjadi perhatian utama, terutama bagi sekolah dan masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas.

Dalam pembahasan anggaran bersama Perpusnas, pagu anggaran tahun 2027 ditetapkan sebesar Rp417,725 miliar, meningkat sekitar 15,3 persen dibandingkan anggaran tahun 2026 sebesar Rp362,165 miliar.

Adela menyambut positif peningkatan tersebut. Menurutnya, tambahan dukungan anggaran harus diarahkan untuk mempersempit kesenjangan akses literasi antara masyarakat di wilayah perkotaan dengan mereka yang berada di daerah pedesaan maupun wilayah 3T.

Adela menegaskan pembangunan literasi tidak boleh hanya dinikmati oleh masyarakat yang tinggal di daerah dengan fasilitas pendidikan dan perpustakaan yang sudah memadai.

Anak-anak di daerah dengan keterbatasan sarana juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan bahan bacaan berkualitas yang dapat menunjang proses belajar sekaligus memperluas wawasan mereka.

“Upaya pemerataan akses literasi dan perluasan bahan bacaan di tanah air mendapat dorongan kuat dengan persetujuan Pagu Anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Tahun Anggaran 2027 sebesar Rp417,725 miliar, naik dari tahun 2026,”kata Adela dikutip Selasa (08/09)

Menurut Adela, pemerataan akses tersebut menjadi semakin penting karena bahan bacaan dapat berperan dalam membentuk cara berpikir, pengetahuan, sekaligus karakter generasi muda.

Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah perpustakaan sekolah. Adela mengingatkan agar perpustakaan tidak diposisikan hanya sebagai tempat penyimpanan buku pelajaran.

Perpustakaan sekolah harus mampu menghadirkan beragam bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan peserta didik.

“Perpustakaan sekolah harus menyediakan bahan bacaan yang berkualitas. Jangan hanya buku pelajaran. Anak-anak kita membutuhkan buku cerita, ilmu pengetahuan, sejarah, budaya, teknologi, dan berbagai bacaan yang dapat memperkaya wawasan serta membangun karakter mereka,”kata Adela.

Dengan koleksi yang lebih beragam, perpustakaan sekolah diharapkan dapat menjadi ruang yang mendorong anak untuk membaca secara sukarela, bukan sekadar membaca karena tuntutan pembelajaran.

Adela juga menyoroti pentingnya memperkuat program literasi di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dalam pembahasan anggaran tersebut, Komisi X DPR RI menerima usulan tambahan anggaran Perpusnas sebesar Rp307,774 miliar untuk memperkuat berbagai program strategis literasi, terutama di wilayah pedesaan dan daerah 3T.

Menurut Adela, dukungan tersebut harus menjadi kesempatan untuk memastikan masyarakat di wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses tidak semakin tertinggal dalam memperoleh bahan bacaan dan sumber pengetahuan.

Jangan Sampai Buku Hanya Menumpuk

Adela mengingatkan bahwa pemerataan literasi tidak berhenti pada pengadaan dan distribusi buku. Pemerintah juga perlu memastikan bahan bacaan benar-benar digunakan dan memberikan manfaat.

“Jangan sampai kita hanya menghitung berapa banyak buku yang tersedia, tetapi tidak melihat apakah buku tersebut benar-benar dibaca dan memberikan manfaat bagi anak-anak dan masyarakat,”tegas Adela.

Karena itu, program literasi perlu dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat setempat. Koleksi buku yang tersedia harus relevan, menarik, dan mampu mendorong masyarakat untuk menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Adela berpandangan pembangunan budaya literasi membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Perpustakaan harus menjadi ruang yang hidup dan mampu mempertemukan masyarakat dengan berbagai sumber pengetahuan.

Hal tersebut semakin penting di tengah perkembangan teknologi informasi yang membuat generasi muda memiliki begitu banyak pilihan sumber informasi.

Perpustakaan, kata Adela, harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman sekaligus tetap memastikan masyarakat memiliki akses terhadap informasi dan bahan bacaan yang berkualitas.

Fraksi Partai Golkar, kata Adela, terus mendorong peningkatan anggaran untuk mendukung peningkatan kualitas SDM dan angka literasi nasional.

Ia menyatakan pihaknya menyetujui pagu anggaran Perpusnas 2027 sekaligus mendukung adanya tambahan anggaran untuk memperkuat program-program strategis.

“Untuk dapat terus meningkatkan kualitas SDM dan peningkatan angka literasi di Indonesia, fraksi partai Golkar terus mendorong untuk adanya kenaikan pagu Anggaran secara lebih signifikan,”kata Adela.

Adela berharap peningkatan dukungan anggaran tersebut benar-benar dirasakan masyarakat, terutama mereka yang selama ini berada di wilayah dengan akses literasi yang terbatas.

“Saya senang melihat adanya tambahan pagu anggaran untuk Perpusnas pada tahun 2027. Tentu kita berharap tambahan anggaran ini benar-benar dapat diterjemahkan menjadi program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,”ujar Adela.

Dengan demikian, kenaikan anggaran Perpusnas 2027 diharapkan tidak hanya tercermin dalam angka di dokumen anggaran, tetapi hadir dalam bentuk buku yang sampai ke sekolah, perpustakaan yang hidup, serta semakin luasnya kesempatan masyarakat untuk membaca dan memperoleh pengetahuan (red)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *