Resmi Diluncurkan, Bank Sampah Kumpul Mutiara Jadi Harapan Baru Bogor

3 menit membaca View : 86
MSA
Daerah - 14 Jun 2026

BOGOR, WAKILRAKYAT.CO.ID – Peluncuran Bank Sampah Kumpul Mutiara di Kelurahan Mekarwangi, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Minggu (14/6/2026), menjadi simbol semakin kuatnya gerakan masyarakat dalam mengatasi persoalan sampah dari tingkat rumah tangga. Program yang telah berjalan selama empat tahun ini kini resmi diperkenalkan secara lebih luas dengan membawa misi besar: menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.

Acara launching dihadiri oleh warga, pengurus bank sampah, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, hingga pemerintah wilayah setempat. Ketiganya menilai keberadaan bank sampah menjadi salah satu solusi nyata dalam menghadapi tantangan pengelolaan sampah perkotaan yang terus meningkat.

Direktur Bank Sampah Kumpul Mutiara, Indah Purwaningsih, mengatakan bahwa bank sampah tersebut berawal dari keresahan warga terhadap tumpukan sampah yang kerap menimbulkan masalah kebersihan di lingkungan perumahan.

“Awalnya kami hanya ingin lingkungan menjadi lebih bersih dan nyaman. Tetapi ternyata sampah yang dikelola dengan baik bisa memberikan manfaat ekonomi bagi warga,” ujar Indah.

Menurutnya, hingga saat ini terdapat sekitar 60 nasabah aktif yang rutin melakukan penyetoran sampah. Dari kegiatan tersebut, sejumlah warga bahkan berhasil mengumpulkan tabungan hingga jutaan rupiah.

Indah menjelaskan, program yang awalnya hanya fokus pada pengelolaan sampah anorganik kini berkembang menjadi berbagai inovasi, seperti pembuatan komposter, produksi pupuk cair, pupuk organik, hingga kerajinan berbasis daur ulang.

“Tujuan kami bukan hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mengubah pola pikir masyarakat bahwa sampah memiliki nilai dan manfaat jika dikelola dengan benar,” katanya.

Sementara itu, Tim Sosialisasi DLH Kota Bogor, Novi Eka Mulya, menilai peluncuran Bank Sampah Kumpul Mutiara menjadi langkah penting dalam mendukung strategi pengurangan sampah dari sumbernya.

Ia mengungkapkan bahwa Kota Bogor masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah karena tidak memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sendiri. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan pengurangan sampah.

“Bank sampah seperti ini menjadi bagian penting dari solusi. Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga agar volume sampah yang dibuang ke TPA terus berkurang,” ujar Novi.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa pengelolaan sampah bukan semata soal ekonomi, melainkan juga bagian dari upaya menjaga lingkungan hidup di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.

“Yang harus diutamakan adalah aspek ekologi atau lingkungan. Setelah itu edukasi kepada masyarakat, lalu manfaat ekonominya akan mengikuti,” tegasnya.

Di kesempatan yang sama, Sekretaris Kelurahan Mekarwangi, Rully Ferdinansyah, memberikan apresiasi atas konsistensi pengurus dan warga yang berhasil mempertahankan keberlangsungan Bank Sampah Kumpul Mutiara selama empat tahun terakhir.

Menurut Rully, gerakan tersebut dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan.

“Kalau sampah bisa selesai di tingkat rumah tangga dan lingkungan, maka jumlah sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir akan berkurang secara signifikan,” katanya.

Rully juga berharap keberadaan Bank Sampah Kumpul Mutiara dapat menjadi model yang direplikasi di seluruh wilayah Kelurahan Mekarwangi yang memiliki 14 RW.

“Harapan kami seluruh RW nantinya memiliki bank sampah. Dengan begitu, manfaatnya tidak hanya dirasakan lingkungan, tetapi juga masyarakat secara ekonomi,” ujarnya.

Peluncuran Bank Sampah Kumpul Mutiara menunjukkan bahwa kolaborasi antara warga, pemerintah, dan komunitas mampu melahirkan solusi konkret terhadap persoalan sampah. Dari gerakan sederhana di tingkat lingkungan, lahir harapan baru untuk mewujudkan Kota Bogor yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Lebih dari sekadar tempat menabung sampah, Bank Sampah Kumpul Mutiara kini menjadi simbol perubahan cara pandang masyarakat bahwa sampah bukan lagi beban, melainkan aset yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan kesejahteraan bersama (RED).

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *