Anggota Komisi X DPR RI, Adela Kanasya Adies (kanan) menerima ucapan selamat dari Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, seusai dilantik menjadi anggota MPR RI di Komplek Parlemen Jakarta pada Senin (22/06)JAKARTA, WAKILRAKYAT.CO.ID – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, dr. Adela Kanasya Adies, MSc., menekankan pentingnya pengalaman klinis yang memadai bagi peserta program pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit (hospital-based residency). Menurutnya, kompetensi dokter spesialis tidak hanya dibentuk melalui pembelajaran teori, tetapi juga melalui paparan langsung terhadap berbagai kasus medis di lapangan.
Hal itu disampaikan Adela dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi X DPR RI bersama Kementerian Agama, Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Kesehatan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Adela menilai program pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit merupakan langkah positif untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan tenaga spesialis di berbagai daerah. Namun, ia mengingatkan bahwa kualitas proses pendidikan harus menjadi perhatian utama dalam implementasinya.
Menurutnya, salah satu indikator penting kualitas pendidikan dokter spesialis adalah kesempatan peserta didik untuk menangani berbagai jenis kasus medis dengan tingkat kompleksitas yang beragam selama masa pendidikan.
“Pendidikan dokter spesialis sangat bergantung pada proses pembelajaran di lapangan, termasuk paparan terhadap berbagai jenis kasus. Ini harus terus dipastikan agar kompetensi lulusan tetap terjaga,” ujar Adela.
Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Timur I itu menjelaskan, pengalaman klinis yang luas akan membentuk kemampuan analisis, ketepatan pengambilan keputusan, serta keterampilan teknis yang dibutuhkan seorang dokter spesialis ketika nantinya bertugas melayani masyarakat.
Karena itu, Adela meminta pemerintah memastikan rumah sakit yang menjadi lokasi pendidikan memiliki kapasitas dan jumlah kasus yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran para peserta.
Selain pengalaman klinis, ia juga menyoroti pentingnya dukungan tenaga pendidik yang kompeten agar proses transfer ilmu dan keterampilan dapat berlangsung secara optimal.
Di sisi lain, Adela mengapresiasi tujuan pemerintah dalam menghadirkan program spesialis berbasis rumah sakit sebagai solusi untuk mempercepat pemerataan tenaga kesehatan.
“Saya melihat tujuan dari program spesialis berbasis rumah sakit ini sangat baik, terutama untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di berbagai daerah. Saya sangat mengapresiasi semangat besar di balik kebijakan ini,” katanya.
Meski demikian, Adela menegaskan bahwa peningkatan jumlah dokter spesialis tidak boleh menjadi satu-satunya target. Menurutnya, kualitas lulusan harus tetap menjadi tolok ukur utama keberhasilan program.
“Jangan sampai semangat mempercepat pemenuhan dokter spesialis justru mengurangi kualitas pendidikan yang selama ini menjadi fondasi utama pelayanan kesehatan. Kualitas lulusan harus tetap menjadi prioritas,” tegasnya.
Adela berharap program pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit mampu menghasilkan tenaga medis yang tidak hanya banyak secara jumlah, tetapi juga memiliki kompetensi tinggi dan pengalaman klinis yang kuat untuk menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat di seluruh Indonesia (red)

Tidak ada komentar