Adela Kanasya Adies: Literasi Harus Masuk Kurikulum Sekolah dan Kampus

3 menit membaca View : 21
MSA
Nasional - 24 Agu 2026

JAKARTA, WAKILRAKYAT.CO.ID – Penguatan budaya literasi di Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan perpustakaan dan gerakan membaca masyarakat. Literasi perlu menjadi bagian integral dari sistem pendidikan agar kemampuan membaca, memahami, mengevaluasi, dan mengelola informasi tumbuh sejak bangku sekolah hingga perguruan tinggi.

Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, Adela Kanasya Adies, mendorong agar agenda literasi diperkuat dalam kurikulum pembelajaran di sekolah dan kampus.

Menurut Adela, langkah tersebut diperlukan untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemampuan berpikir kritis dan mampu menghadapi derasnya arus informasi di era digital.

“Dalam rangka meningkatkan literasi bagi generasi muda di Indonesia, diperlukan upaya yang sistematis dan terencana, yaitu selain aspek pengembangan budaya membaca dilakukan melalui perpustakaan, juga diperlukan pengembangan literasi dengan memasukkan agenda literasi di dalam kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah dan kampus,” ujar Adela dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/8/2026).

Literasi Bukan Sekadar Bisa Membaca

Adela menilai literasi harus dipahami dalam pengertian yang lebih luas. Kemampuan literasi berkaitan erat dengan kemampuan seseorang untuk berpikir kritis terhadap persoalan, mengevaluasi informasi, serta mengelola informasi secara tepat.

Hal tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital yang membuat masyarakat, khususnya generasi muda, berhadapan dengan arus informasi yang sangat besar.

Karena itu, kemampuan membaca tidak boleh berhenti pada aktivitas memahami teks. Peserta didik juga harus dibekali kemampuan menganalisis informasi dan menentukan informasi yang dapat dipercaya.

PISA Jadi Alarm Penguatan Literasi

Adela menyebut tantangan literasi Indonesia masih cukup serius. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang diselenggarakan OECD, skor membaca siswa Indonesia usia 15 tahun tercatat 359 poin.

Angka tersebut masih berada jauh di bawah rata-rata OECD yang mencapai 476 poin.

Meski demikian, terdapat perkembangan pada Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). Pada 2024, IPLM nasional mencapai 73,52, meningkat dari 69,42 pada 2023 dan melampaui target 71,4.

Sementara itu, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) 2024 mencapai 72,44.

Menurut Adela, perkembangan tersebut harus menjadi modal untuk memperkuat kebijakan literasi secara lebih sistematis.

Sekolah dan Kampus Jadi Ruang Strategis

Adela menilai sekolah dan perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membangun budaya literasi. Integrasi literasi dalam pembelajaran memungkinkan kemampuan tersebut diterapkan secara konsisten dalam berbagai mata pelajaran.

Dengan demikian, literasi tidak menjadi kegiatan tambahan yang hanya dilakukan pada waktu tertentu, tetapi menjadi bagian dari proses belajar sehari-hari.

Ia juga menilai perpustakaan sekolah dan kampus harus diperkuat agar dapat mendukung proses tersebut.

“Untuk dapat meningkatkan literasi generasi muda, diperlukan berbagai dukungan dari berbagai pihak, baik pusat, daerah sampai dengan desa/kelurahan dan masyarakat,” katanya.

Dukungan tersebut meliputi anggaran, ketersediaan buku, SDM pengelola perpustakaan, komunitas baca, hingga transformasi perpustakaan.

Jangan Biarkan Transformasi Digital Menggerus Budaya Baca

Adela juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh membuat budaya membaca konvensional ditinggalkan.

Transformasi digital justru harus dimanfaatkan untuk memperluas akses terhadap bahan bacaan sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran.

Menurutnya, perpustakaan perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi tetap mempertahankan fungsi utamanya sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan budaya membaca.

Ia berharap penguatan literasi melalui sekolah, kampus, perpustakaan, keluarga, komunitas, hingga pemerintah daerah dapat dilakukan secara terpadu.

Dengan memasukkan agenda literasi ke dalam pembelajaran, Adela optimistis generasi muda Indonesia tidak hanya memiliki kemampuan membaca yang lebih baik, tetapi juga mampu berpikir kritis, menyaring informasi, dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

“Literasi generasi muda sangat penting karena menjadi bagian dari fondasi peradaban yang maju,” pungkasnya (red)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *